Pagi ini saya ditegur oleh Allah. Bicara Umar bin Al Khattab tatakala ingin membuka kunci Baitul Maqdis dalam keadaan sederhana dan bersahaja; "kita ini adalah umat yang telah Allah berikan kemuliaan dengan Islam. Sekiranya kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita."
Allahu.
Terkadang ada perkara yang saya dahului berbanding urusan kerja saya dengan Allah. Adakalanya hati milik tuhan yang mengepam darah muda saya ini cuba memberontak, berusaha sedaya upaya untuk tidak terikat dengan peraturan dan sebagainya sebab tak mahu dilabel.
Adakalanya terdetik juga di hati saya, adakah saya kini terjerat dalam gelembung hipokrasi ciptaan saya sendiri? Sudah betul ikhlaskah saya? Ataukah masih jauh lagi penyucian hati saya untuk benar-benar yakin dengan pautan urwatil wusqo sebagai kemuliaan?
Mana perginya percaya yang sama, di saat api dingin membakar nabi Allah Ibrahim?
Mana perginya percaya yang sama, di saat tongkat nabi Allah Musa dilempar di tengah gelanggang firaun?
Mana perginya percaya yang sama, saat si Ghulam merelakan dirinya ditusuk panah?
Allahu..
Moga ketemu kekuatan kalbu serta penyucian jiwa dari pemilik hati. Dan ternyata, bukan mulianya diri dalam tenungan mata-mata pinjaman Tuhan yang sepatutnya dicari..
Showing posts with label tarbiah.. Show all posts
Showing posts with label tarbiah.. Show all posts
Wednesday, December 24, 2014
Tuesday, September 9, 2014
Ruyung
Adakalanya tak semua ruyung mampu dipecahkan.
Pedih ditelan diluah derita, memang begitu hakikatnya.
Entahlah. Berat kaki melangkah, berat lagi hati yang digalas. Terasa makin lama makin jerih untuk menapak, tak daya memecah ruyung yang entah bila kelibat sagunya.
Pedih ditelan diluah derita, memang begitu hakikatnya.
Entahlah. Berat kaki melangkah, berat lagi hati yang digalas. Terasa makin lama makin jerih untuk menapak, tak daya memecah ruyung yang entah bila kelibat sagunya.
Pengalaman lalu mengubah neraca kini dan membawa seribu satu perspektif baru. Penat memecah ruyung sehingga terluka habis jari jemari.
Bukan berputus asa, cuma diri si pemecah ruyung ini cuba rasional untuk bertapak di alam realiti. Mungkin liatnya ruyung dek pincangnya kudrat dan jemari yang luka,,, pintakan tenungan susulan mata dan ruang masa untuk kembali bertenaga..
Maka izinkan, mohon diperkenan...
Bukan berputus asa, cuma diri si pemecah ruyung ini cuba rasional untuk bertapak di alam realiti. Mungkin liatnya ruyung dek pincangnya kudrat dan jemari yang luka,,, pintakan tenungan susulan mata dan ruang masa untuk kembali bertenaga..
Maka izinkan, mohon diperkenan...
Subscribe to:
Posts (Atom)