Tuesday, February 10, 2015

The 5th Stage of Grief

Finally I succumbed to the final level of grief.

Well technically, I skipped most of the ladidas and went straightforward to the level of acceptance. There's nothing you could do jugak pun bila benda nak jadi.

It's been a whirlwind life for me thus far. All my life i've been preparing for this; the hardest part; the one that changed me; the goodbyes. Ever since I was a child ive been exposed to this; the harsh truth of reality that none is really eternal.

Friends come and go, people die and leave, lovers can become strangers, ...and heart, is a strong and powerful thing that can withstand all this whateverness which causing this separation issue. And it will do that with the helps of time and yourself.

They say you never know how strong you are until being strong is the only choice you have.
And a strong person knows how to keep their life stays in line. A strong person knows what to do and what to choose to be strong.

At times you have to accept the fact that you don't have to fight in every single battle of yours.
Sometimes it is all about "meh, things happened."

Acceptance would be easier if you mastered on how to understand yourself better.




Wednesday, December 24, 2014

Mulia

Pagi ini saya ditegur oleh Allah. Bicara Umar bin Al Khattab tatakala ingin membuka kunci Baitul Maqdis dalam keadaan sederhana dan bersahaja; "kita ini adalah umat yang telah Allah berikan kemuliaan dengan Islam. Sekiranya kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita."

Allahu.

Terkadang ada perkara yang saya dahului berbanding urusan kerja saya dengan Allah. Adakalanya hati milik tuhan yang mengepam darah muda saya ini cuba memberontak, berusaha sedaya upaya untuk tidak terikat dengan peraturan dan sebagainya sebab tak mahu dilabel.

Adakalanya terdetik juga di hati saya, adakah saya kini terjerat dalam gelembung hipokrasi ciptaan saya sendiri? Sudah betul ikhlaskah saya? Ataukah masih jauh lagi penyucian hati saya untuk benar-benar yakin dengan pautan urwatil wusqo sebagai kemuliaan?

Mana perginya percaya yang sama, di saat api dingin membakar nabi Allah Ibrahim?
Mana perginya percaya yang sama, di saat tongkat nabi Allah Musa dilempar di tengah gelanggang firaun?
Mana perginya percaya yang sama, saat si Ghulam merelakan dirinya ditusuk panah?

Allahu..

Moga ketemu kekuatan kalbu serta penyucian jiwa dari pemilik hati. Dan ternyata, bukan mulianya diri dalam tenungan mata-mata pinjaman Tuhan yang sepatutnya dicari..

Tuesday, September 9, 2014

Ruyung

Adakalanya tak semua ruyung mampu dipecahkan.
Pedih ditelan diluah derita, memang begitu hakikatnya.

Entahlah. Berat kaki melangkah, berat lagi hati yang digalas. Terasa makin lama makin jerih untuk menapak, tak daya memecah ruyung yang entah bila kelibat sagunya. 

Pengalaman lalu mengubah neraca kini dan membawa seribu satu perspektif baru. Penat memecah ruyung sehingga terluka habis jari jemari.

Bukan berputus asa, cuma diri si pemecah ruyung ini cuba rasional untuk bertapak di alam realiti. Mungkin liatnya ruyung dek pincangnya kudrat dan jemari yang luka,,, pintakan tenungan susulan mata dan ruang masa untuk kembali bertenaga..

Maka izinkan, mohon diperkenan...