Tuesday, April 28, 2015

Terlerailah Kuncup Dedaun

Di birai jendela jernih yang dilatari rembulan serta kerdipan bintang, dua susuk tubuh sering duduk berbicara. Bicara mereka penuh dengan emosi dan mainan gaya; terkadang nampak tegang tatkala keseriusan hadir dalam rona bicara. dan terkadang menyusul hilai tawa yang memecah kesunyian malam di segenap penjuru tingkat 15.

Masing-masing cuba melengkapi rona emosi masing-masing. Berbekalkan larut malam serta frustasi terhadap spesies sendiri, ruhi suasananya menghadirkan mereka untuk mengkoreksi diri dalam mencari solusi untuk terus berjuang menghadapi baki sisa hidup yang mendatang.

Gelisahnya figura hati akhirnya rebah dalam tautan telinga yang hemat mendengar, dan lafaz bibir yang ikhlas dalam tiap titipan bicara. Nun di birai jendela, ditemani pelita ikhlas yang menerangi dua susuk tubuh tersebut dalam mengharungi pekat malam.

Pabila malam mulai melabuhkan tirainya yang memekat, dan masing-masing mulai sedar yang ini bukannya omongan yang kosong belaka, bicara dua susuk ini berhenti. Hasil perlu diraih dari bicara pekat malam ini. Solusi digapai usai bermuhasabah. Aksi bakal menyusul. Senyum dan ucapan selamat malam dibalas. Pintu dikatup. Lampu dunia dipadam. Menanti hari esok yang penuh dengan cahaya dalam larut malam yang memekat.

Dan nun jauh di bawah sana, musim demi musim, kuncup dedaunan mula terlerai dari hibernasi musim sejuk yang lama. Musim bunga bakal tiba, dan sudah tiba gilirannya untuk si hijau mula beraksi.

Tuesday, February 10, 2015

The 5th Stage of Grief

Finally I succumbed to the final level of grief.

Well technically, I skipped most of the ladidas and went straightforward to the level of acceptance. There's nothing you could do jugak pun bila benda nak jadi.

It's been a whirlwind life for me thus far. All my life i've been preparing for this; the hardest part; the one that changed me; the goodbyes. Ever since I was a child ive been exposed to this; the harsh truth of reality that none is really eternal.

Friends come and go, people die and leave, lovers can become strangers, ...and heart, is a strong and powerful thing that can withstand all this whateverness which causing this separation issue. And it will do that with the helps of time and yourself.

They say you never know how strong you are until being strong is the only choice you have.
And a strong person knows how to keep their life stays in line. A strong person knows what to do and what to choose to be strong.

At times you have to accept the fact that you don't have to fight in every single battle of yours.
Sometimes it is all about "meh, things happened."

Acceptance would be easier if you mastered on how to understand yourself better.




Wednesday, December 24, 2014

Mulia

Pagi ini saya ditegur oleh Allah. Bicara Umar bin Al Khattab tatakala ingin membuka kunci Baitul Maqdis dalam keadaan sederhana dan bersahaja; "kita ini adalah umat yang telah Allah berikan kemuliaan dengan Islam. Sekiranya kita mencari kemuliaan dengan yang lain, maka Allah akan memberikan kehinaan kepada kita."

Allahu.

Terkadang ada perkara yang saya dahului berbanding urusan kerja saya dengan Allah. Adakalanya hati milik tuhan yang mengepam darah muda saya ini cuba memberontak, berusaha sedaya upaya untuk tidak terikat dengan peraturan dan sebagainya sebab tak mahu dilabel.

Adakalanya terdetik juga di hati saya, adakah saya kini terjerat dalam gelembung hipokrasi ciptaan saya sendiri? Sudah betul ikhlaskah saya? Ataukah masih jauh lagi penyucian hati saya untuk benar-benar yakin dengan pautan urwatil wusqo sebagai kemuliaan?

Mana perginya percaya yang sama, di saat api dingin membakar nabi Allah Ibrahim?
Mana perginya percaya yang sama, di saat tongkat nabi Allah Musa dilempar di tengah gelanggang firaun?
Mana perginya percaya yang sama, saat si Ghulam merelakan dirinya ditusuk panah?

Allahu..

Moga ketemu kekuatan kalbu serta penyucian jiwa dari pemilik hati. Dan ternyata, bukan mulianya diri dalam tenungan mata-mata pinjaman Tuhan yang sepatutnya dicari..